KRITIK DARI CERPEN KARYA M.SHOIM ANWAR
Cerpen Sorot Mata Syaila Karya M. Shoim Anwar ini mengangkat kisah kehidupan sehari-hari yang sudah akrab diperbincangkan, yaitu tentang koruptor di Indonesia. Sesuai kutipan cerpen berikut,
“Sekarang aku berpikir persoalanku sendiri. Aku berharap penerbanganku terlambat, bila perlu ditunda dalam waktu yang panjang. Alasan melaksanakan ibadah ke Tanah Suci dan ziarah ke makam nabi-nabi sudah kulalui. Semua itu aku lakukan untuk memperlambat proses hukum sambil mencari terobosan lain, termasuk sengaja tidak hadir saat dipanggil untuk diperiksapenyidik.”
Dalam kutipan tersebut menceritakan kehidupan seorang koruptor yang berusaha lari dari kenyataan. Mereka dengan mudah melarikan diri sekaligus melarikan uang dengan pergi ke luar negeri. Mereka menyewa pengacara, sedangkan pelaku korupsi tersebut berdalih pergi ketempat suci untuk mencucikan uang yang telah mereka dapatkan sambil menanti putusan hukum untuk dibebaskan dan terbebas dari segala tuntutan. Cerpen “Sorot Mata Sheila” menceritakan bagaimana mudahnya para koruptor berdalih untuk menghindari hukuman maupun introgasi dari pihak yang berwenang. Koruptor tersebut hanya memikirkan dirinya saja agar terbebas dari hukuman, namun ia lupa pada satu hal. Ia tidak memikirkan dampak yang akan diterima oleh keluarganya akibat ulahnya, hal ini dapat kita lihat dalam kutipan berikutini,
“Aku berusaha meyakinkan diri. Ini bukan mimpi atau sekadar ilusi. Di lorong terdalam Bandara Internasional Abu Dhabi, aku tak berdaya menolong istri-istri dan anak-anakku yang sekarat menghadapi maut. Mereka digantung seperti kambing habis disembelih untuk dikuliti. Barangkali ini adalah ujung dari hidup kami semua. Aku ingin meronta, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Kaki dan tanganku pun terserimpung di lantai lorong yang becek dan pesing.”
Dalam kutipan tersebut jelas sekali menceritakan seorang koruptor dengan berbagai konflik yang timbul dari perbuatannya. Yang harus menghadapi kejahatannya tidak hanya dirinya, tetapi juga istri dan anaknya yang harus menjadi korban kemarahan masyarakat akibat dari perbuatannya tersebut.
Cerpen Sepatu Jinjit Aryanti“ yang ditulis oleh M. Shoim Anwar menceritakan tentang mengabstraksikan realitas kehidupan seorang pegawai dengan para pejabat. Tokoh Aku yang berada di gedung negari tetangga Singapura bersama dengan seorang perempuan. Di sini tokoh aku hanya menjalankan tugas dari atasanya, tampak sedang melihat pemandangan dari jendela kamar di lantai 25. Seperti kutipan cerpen “Sepatu Jinjit Aryanti” karya M. Shoim Anwar sebagai berikut.
“Permukaan tanah di bawah sana tampak botak-botak seperti rambut lelaki tua yang rontok. Dari jendela kamar di lantai 25, aku melihat gedung-gedung telah merebahkan bayangan. Matahari hamper paripurna dalam putarannya.”
Berdasarkan kutipan di atas, aku menyembunyikan Ariyanti di sebuah hotel di kamar lantai 25. Dari jendela kamar 25 terlihat tanah di bawah sana yang kosong, justru yang ada hanyalah gedung-gedung yang sama sejajar posisinya dengan gedung yang aku tempati sekarang. Matari tampak sangat teriknya karena mulai menginjak siang hari.
Tokoh aku belum selesai melihat pemandangan gedung secara keseluruhan masih tetap berada di posisi jendela kamar dari lantai 25 melihat pemandangan disekitar gedung. Betapa gedung-gedung disebelahnya yang sama tingginya da nada juga yang belum selesai pembangunannya. Seperti kutipan cerpen “Sepatu Jinjit Aryanti” karya M. Shoim Anwar sebagai berikut.
“Pada gedung-gedung menjulang yang belum usai pembangunannya itu, tangga-tangga dengan katrol raksasa tak lagi bergerak, lehernya mendongak ke langit seperti kerangka pemangsa purba yang beku. Sementara bangunan-bangunan yang lebih pendek tampak seperti kotak-kotak berserakan dengan warna kelabu dan atap biru. Bangunan masih belum padat. Mobil-mobil terparkir di sekitarnya. Taka da tanda-tanda denyut kehidupan di sana. Suasana sepi terasa dari pucuk-pucuk bangunan hingga ke bawah.”
Berdasarkan kutipan di atas, gedung-gedung yang belum selesai pembangunannya dan alat berat telah berhenti, gedung itu menjulang ke atas seperti raksasa mati yang siap memangsa di sekitarnya. Sementara bangunan-bangunan kecil di sekelilingnya tampak tidak terlihat. Bangunan yang ada di sekeliling terihat tidak begitu padat seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan dan mobil-mobil juga tertata dengan rapi terparkir di sekitarnya. Suasanya begitu sepi terasa dari atas sampai bawah gedung.
Aku membuyarkan fokusku yang sedari tadi melihat pemandangan sekitar. Aku sekarang terfokus pada seorang perempuan yang bernama Ariyanti. Ariyanti yang tampaknya tengah ingin mandi sedikit aku goda lantas Ariyanti menjawab godaanku dengan manja. Seperti kutipan cerpen “Sepatu Jinjit Aryanti” karya M. Shoim Anwar sebagai berikut.
“Jangan, ah,” jawaban manja. Dia melangkah ke mulut pintu Senyumnya masih tertinggal di mataku. Pintu itu ditutup dengan pelan. Tampak siluetnya bergerak-gerak di balik pintu kaca yang buram. Tiba-tiba aku merasa sepi. Beberapa saat setelah itu terdengar desit dan kecipak air. Siluet tangan Ariyanti bergerak naik turun. Tubuhnya mengabur dalam lamur kaca.”
Berdasarkan kutipan di atas, Ariyanti yang ingin mandi tengah berdiri di depan pintu kamar mandi sambil tersenyum karena tokoh aku tengah menggoda Ariyanti. Pintu kamar mandi itu telah ditutup oleh Ariyanti, tapi tampak bayangan bergerak di balik pintu kaca yang buram. Sejenak suasana terasa sepi. Selanjutnya, terdengar suara percikan air yang keluar dari kamar mandi. Bayangan tangan Ariyanti bergerak naik turun. Tubuhnya tak terlihat oleh mata karena kaca kamar mandi yang buram.
Dalam cerpen “Sepatu Jinjit Ariyanti” Tokoh Aku dan Ariyanti sama-sama merupakan bawahan yang bekerja dengan seorang pejabat. Hanya saja, aku bekerja untuk mengawal Ariyanti kemana saja agar dia tidak lepas dari genggaman para pejabat itu. Seperti kutipan cerpen “Sepatu Jinjit Aryanti” karya M. Shoim Anwar sebagai berikut.
“Aku mendapat perintah untuk ’’menyembunyikan” Aryanti dengan ’’berbagai cara” karena dia adalah saksi mahkota terkait kasus pembunuhan orang penting yang direncanakan. Sengaja kata itu digunakan dan aku harus menerjemahkannya sendiri. Ambigu, tapi sudah menjadi kelaziman agar pemberi perintah dapat berkelit ketika terjadi hal yang tidak dikehendaki. Dan pastilah aku yang dipersalahkan dan dikorbankan. Sebuah pertaruhan klasik seorang bawahan.”
Berdasarkan kutipan di atas, aku di tugaskan untuk menyembunyikan Ariyanti karena kasus pembunuhan orang penting yang sudah direncanakan sebelumnya. Aryanti adalah saksi mahkota terkait kasus pembunuhan orang penting yang direncanakan. Sengaja aku menggunakan kata tersebut agar pemberi perintah dapat berkelit jika terjadi sesuatu yang dipersalahkan adalah aku dan Ariyanti, aku tidaklah heran mendengar penguasa yang bersalah tetapi yang terkena getahnya adalah bawahanya.
Aryanti adalah seorang perempuan biasa yang awalnya tidak tahu masalah persekongkolan para pejabat petinggi. Kehidupannya berubah setelah terlilit masalah tersebut. Seperti kutipan cerpen “Sepatu Jinjit Aryanti” karya M. Shoim Anwar sebagai berikut.
“Aryanti pada awalnya adalah perempuan biasa. Dia seorang caddy di lapangan golf. Kelebihannya adalah berparas cantik dan lincah. Kulitnya cerah, hidung cenderung kecil tapi terkesan runcing, serta bibir bawahnya bulat dengan belahan di tengah.”
Dalam kutipan tersebut, lebih dominan menjelaskan pada kehidupan sang tokoh yakni Aryanti. Ariyanti seorang caddy di lapangan golf.
Aku kembali membuka pembicaraan lagi dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Ariyanti. Dia terdiam sesaat memikirkan tetang seorang laki-laki berumur yang terbunuh karena dirinya. Seperti kutipan cerpen “Sepatu Jinjit Aryanti” karya M. Shoim Anwar sebagai berikut.
“Ya, karena saya tak diberi pilihan lain.” Kutatap wajah Ariyanti yang tiba-tiba ada aura berbeda. Beberapa jurus dia terdiam. Mungkin mengingat detik-detik terakhir ketika dia diperintahkan, tepatnya dipaksa, untuk menjebak lelaki yang telah banyak memberinya kesenangan dan keuntungan. Lelaki berumur itu telah menjadi sasaran karena dia mengetahui banyak borok yang dilakukan para pembesar. Kalau lelaki ini bisa diberesi, maka ada pihak-pihak lain dalam lingkarannya yang bisa dikambing hitamkan sesuai skenario yang dibuat. Dengan demikian borok itu tak jadi diusut. Ibarat pewayangan, ketika Durna dan Sengkuni bersekongkol, maka jadilah semua itu.”
Berdasarkan kutipan di atas, Ariyanti masih mengingat dengan jelas ketika dirinya menjebak laki-laki berumur yang selama ini memberinya kesenangan dan keuntungan. Laki-laki berumur itu dibunuh karena mengetahui kebusukan para pejabat tinggi yang yang hanya mementingkan diri sendiri. Jika lelaki itu berhasil terbunuh, maka ada pihak lain yang disalahkan sehingga dapat ditutupi kembali. Seperti kisah pewayangan jawa, persekongkolan yang hebat. Setelah kejadian pembunuhan itu, Aryanti berada hidup dalam posisi tak berdaya. Seperti kutipan cerpen “Sepatu Jinjit Aryanti” karya M. Shoim Anwar sebagai berikut.
“Aku adalah bagian dari persekongkolan itu. Tapi aku dalam posisi tak berdaya karena perintah atasan yang tak boleh ditolak. Aku tetaplah seorang manusia yang mempunyai pikiran dan rasa yang waras. Aryanti tentu juga demikian. Dia dalam posisi tak berdaya. Memang aku dan Aryanti adalah bagian dari pelaku persekongkolan itu.”
Berdasarkan kutipan di atas, tokoh aku juga merupakan bagian daripersekongkolan itu. Tapi, tokoh aku dalam posisi ini tidak memiliki pilihan lain selain menuruti atasan begitu juga dengan Ariyanti. Mereka berdualah pelaku persekongkolan itu. Mereka berdua hanya objek dari para pejabat petinggi itu. Seperti kutipan cerpen “Sepatu Jinjit Aryanti” karya M. Shoim Anwar sebagai berikut.
“Tapi, dan inilah sebenarnya, kami berdua tidak lain adalah objek. Apa yang kami lakukan bukanlah untuk kepentingan kami sendiri. Yang lebih menderita tentu Aryanti karena tak boleh berkomunikasi dengan keluarga dan teman-temannya. Jalur komunikasinya telah disadap dengan sempurna. Dalam tubuhnya seperti telah ditanami microchip sehingga pergerakannya bisa dipantau melalui layar monitor.”
Berdasarkan kutipan di atas, Tokoh aku dan ariyanti sebagai objek pelaku pembunuhan. Mereka lakukan bukan demi kepentingan diri sendiri, yang lebih menderita Ariyanti karena tidak dapat berkomunikasi dengan siapa pun termasuk keluarganya karena dirinya dijaga ketat dan komunikasinya disadap begitu juga seluruh gerak-geriknya dipantau dari jarak jauh.
Selama perjalanan di Singapura antara Ariyanti dan tokoh aku mengalami sebuah percintaan yang begitu rumit karena masalah yang mereka lalui. Seperti kutipan cerpen “Sepatu Jinjit Aryanti” karya M. Shoim Anwar sebagai berikut.
“Yang kuminta hanya jangan pernah beri kegetiran sesudahnya,” kata Aryanti. ’’Bila waktu tak mampu beri perjumpaan, biarlah kita diam dalam suka, diam dalam rindu. Itu sudah cukup bagiku.”
Berdasarkan kutipan di atas, Aryanti meminta kepada tokoh Aku untuk tidak memberikan sebuah harapan apabila waktu tak mampu lagi untuk memberikan sebuah perjumpaan, dan biarlah perasaan dan rindu ini tersimpan dalam hati, tanpa harus mengutarakan perasaan hati.
Cerpen bambi dan perempuan berselendang baby blue karya M.Shoim Anwar merupakan cerpen yang di dalamnya menceritakan tentang jaksa yang hanya membohongi terdakwa dengan janji akan memenangkan masalah hukum yang menjerat terdakwa tersebut dan berjanji kepada terdakwa akan memenangkan perkara yang ada di persidangan. Akan tetapi, dengan syarat harus memberikan uang agar perkaranya bisa menang.
Dalam cerpen ini terdapat tokoh ytang bernama Bambi. Bambi adalah seorang jaksa yang tidak bertanggung jawab terhadap seorang terdakwa yang ingin kasusnya dapat menang dan terselesaikan. Akan tetapi Bambi mempunyai syarat kepada terdakwa agar bisa menang, dengan memberikan sejumlah uang untuk menyuap di peradilan, alih-alih bisa menang uang tersebut diberikan terdakwa kepada Bambi malah disalahgunakan oleh Bambi untuk bersenang-senang menikmati glamornya kemewahan bersama wanita-wanita cantik yang ia sewa dengan uang hasil terdakwa tersebut. Uang tersebut digunakan di sebuah klub untuk bermanja bersama wanita dan berdansa ria. Di dalam cerpen tersebut juga terdapat tokoh bernama Miske. Miske adalah seorang wanita yang bersama Bambi di sebuah klub untuk bersenang-senang dan berdansa ria. Nama aslinya bukan Miske tetapi Kiara. Kiara juga merupakan korban dari Bambi, sebagai ahli waris dia tidak pernah datang ke pengadilan, hanya di wakilkan oleh kuasa hukumnya saja. Ibu dari Kiara tersebut hanya dipermainkan saja karena Bambi ingin mendapatkan Kiara. Di dalam cerpen tersebut terdapat tookoh yang bernama Devira yang merupakan korban penipuan yang disebabkan oleh Bambi, permasalahan yang sama untuk kasusnya menang harus menyiapkan sejumlah uang untuk menyuap jaksa di persidangkan. Namun, Deviara kalah dan dirinya mengalami kerugian yang banyak.
Cerpen Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah karya M. Shoim Anwar merupakan hasil karya sastra yang menggambarkan realitas kehidupan seorang Lurah dengan warga desanya. Shoim Anwar sebagai pengarang cerpen ini menggugah pembaca dengan menyajikan kehidupan seorang Lurah yang menyalah gunakan jabatannya itu untuk memperdaya masyarakat sekitar da membuat warganya menjadi sengsara.
Perhatikan kutipan berikut:
“Di sebelah mana tahi lalatnya?” aku mencoba mengorek kejelasan.
“Di sebelah kiri, agak ke samping,” jawab Bakrul.
“Katanya sebesar biji randu.”
“Ooo…,” aku manggut-manggut.
Bagi yang kurang yakin, pertanyaan yang dilontarkan pun langsung diteriakkan saat aku lewat di wilayah mereka.
“Di dada istri Pak Lurah ada tahi lalatnya ya?” pertanyaan di teriakkan salah seorang warga. Kali ini aku mencoba menahan diri, tanpa memberi jawaban atau kode.
“Di sebelah kiri ya?” teriakkan itu di lanjutkan.
“Sebesar biji randu ya?”
Pada kutipan di atas, dalam kehidupan bermasyarakat memang terkadang ada orang yang suka mencari kekurangan dari orang lain. Dari berita yang kurang baik apalagi dari orang-orang ternama yang ada di desa tersebut pastinya akan menjadi bahan pembicaraan yang sangat menarik untuk dibicarakan. Berita yang belum tentu ada benarnya itu akan cepat menyebar dari mulut ke telinga orang-orang di sekitarnya tanpa pandang bulu. Seperti itulah realita kehidupan masa kini yang sering mencari-cari kekurangan dari orang lain.
Perhatikan kutipan berikut:
“Suara truk pengangkut material untuk pembangunan perumahan menderu-deru di jalan depan rumah yang rusak parah. Debu-debu itu sering dikeluhkan oleh anakku, Laela, setiap pulang sekolah. Entah mengapa Pak Lurah dan perangkatnya tak peduli dengan situasi itu. Pak Lurah justru tampak akrab dan sering keluar bareng dengan mobil pengembang perumahan itu.”
Pada kutipan di atas, sejak dibangunnya perumahan di desa tersebut, banyak warga yang tersiksa oleh proyek pembangunan itu. Bukan hanya jalan yang semakin rusak, tetapi juga debu-debu berterbangan kemana pun dan membuat sesak di dada. Pejabat desa pun enggan untuk peduli kepada nasib warganya yang semakin mengenaskan itu. Justru para pejabat desa sudah tidak memperdulikan warganya, dan lebih mementingkan proyeknya itu berjalan dengan lancar. Pejabat desa itu lebih mementingkan pemilik pengembangan perumahan saja.
Perhatikan kutipan berikut:
“Bulan depan adalah masa pendaftaran calon lurah atau kepala desa di sini. Konon Pak Lurah akan mencalonkan kembali untuk periode berikutnya. Tak ada yang bisa mencegahnya meski janji-janjinya yang dulu ternyata palsu.”
Pada kutipan di atas, dalam dunia politik memang seperti itu adanya, janji-janji yang disampaikan waktu pemilihan tidak akan pernah ditepati, mungkin karena sudah menjadi orang yang terpilih dan hidupnya sudah enak lantas melupakan janji-janjinya kepada warganya. Jadilah seorang pemimpin yang bertanggung jawab, yang menepati janjinya kepada warga, bukan hanya omong kosong belaka yang ada.
Pada cerpen tersebut menceritakan bahwa sang tokoh “Aku” memiliki istri yang nekat untuk masuk ke istana, padahal hal tersebut sudah jelas dilarang karena penjagaan istana yang ketat. Akibatnya, sang istri dilirik oleh sang raja dan dijadikannya penari namun tidak pernah ada kabar setelah itu. Hal ini dalam kehidupan nyata, marak terjadi. Karna tidak tertahan membandung rasa rindu dengan sang pujaan hati, akhirnya ia nekat untuk menyusulnya apapun yang terjadi, mungkin dalam pemikiran sang pelaku, ia beranggakap bahwa yang terpenting ia sudah berusaha. Apapun yang dihadapi nanti itu urusan belakangan. Konsekuensi akan ia dapatkan dan itulah resikonya.
Pada sisi kerajaan atau istana, dengan memiliki wewenang atau jabatan. Mereka bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan. Keegoisan yang cukup tinggi dan melupakan hak asasi orang lain. Jika dihubungkan dengan kondisi saat ini, banyak sebuah pekejaan yang memainkan pekerjanya tidak seperti manusia. Istirahat yang kurang, waktu bertemu dengan keluarganya, bahkan terkadang itu dengan biaya yang tidak sepadan.
Masih banyak juga orang yang memiliki jabatan tinggi namun salah menggunakan jabatan tersebut. Karena jabatan itu, mereka berlaku sewenang-wenang dengan pihak kecil. Dapat membayar hak mereka dengan uang-uang mereka dan biasanya itu terjadi karena ia melupakan perjalanan mereka dari nol hingga memiliki jabatan tersebut.
Selain sisi kerajaan dengan masyarakat biasa tersebut. Pada cerpen tersebut juga menceritakan kebahagiaan keluarga dengan cinta yang hangat. Bagaimana sang tokoh “Aku” bisa menikah dengan sang istri dan memiliki buah hati, meskipun mereka tidak sempat melihat secara langsung bagaimana perkembangan sang anak. Namun setelah beranjak dewasa, sang tokoh “Aku” akhirnya dapat bertemu dengan sang anak. Sangat disayangkan karena tidak bisa bertemu dengan sang istri atau ibu dari anak nya.
Karena didasari cinta sang kuat, meskipun sang anak sudah sangat lama tidak merasakan kehangatan cinta keluarga, namun sang anak yang bernama “Dewi” tersebut sangat merindukan sang ibu. Ia terus meminta kepada sang Ayah agar diajak ke Istana dan dipertemukan dengan sang ibu. Namun nasib sial mengutuk sang Ayah karena ia pun tidak dapat mengabulkan permintaan sang anak.
Disini dapat diketahui, bahwa kasih sayang yang tulus tidak akan merubah perasaan seseorang. Selebihnya kasih sayang sang orang tuda dengan sang anak, sang anak tidak akan pernah bisa lepas dari kehidupan mereka, hingga kapanpun. Namun yang namanya kehidupan tidak akan pernah ada yang tahu bagaimana besoknya. Terkadang kita harus dituntut untuk menghadapi sesuatu yang tidak pernah kita pikirkan dan inginkan. Namun karena prinsip hidup adalah berjalan, kita ahrus menerima dan menghadapinya.
Daftar Pustaka
http://elokaudina.blogspot.com/2017/06/analisis-cerpen-jangan-ke-istana-anakku.html
http://tulisanbrokoli.blogspot.com/2018/04/kritik-sastra-cerpen-tahi-lalat-karya.html
https://afiyahh.blogspot.com/2019/05/kritik-sastra-cerpen-bambi-dan.html