Berbicara tentang manusia adalah membicarakan tentang kehidupan. Bagaimana seorang manusia menjalani kehidupannya. Peran apakah yang akan diambil. Bukan tentang baik atau tidaknya peran yang akan diambil oleh seorang manusia tersebut dalam kehidupan, tapi bagaimana ia menepatkan di posisi mana dan berdampak apa pada kehidupan yang akan dilaluinya. Begitupun dalam puisi yang akan saya uraikan di bawah ini. Puisi ini memiliki makna bagaimana hakikat dari seorang ulama. Seorang ulama yang mampu menempatkan perannya dengan tepat, tidak terjerumus atau masuk ke dalam jurang keduniawian. Seorang ulama yang berprinsip dan mampu berdiri sendiri tak terpengaruh oleh lingkungan maupun nafsunya. Padahal bisa saja ia mampu memanfaatkan gelar ulamanya untuk kepentingannya sendiri. Namun, ia tidak melakukannya karena hal tersebut dapat menodai hakikat dari gelar ulama itu sendiri dan tidak mampu membohongi hati kecilnya bahwa ulama haruslah berdiri di atas segalanya dan mampu berdaulat.
Baiklah mari kita uraikan makna tiap bait dalam puisi Ulama Abiyasa tak pernah minta Jatah karya M. Shoim Anwar. Pada bait pertama puisi tersebut menceritakan ulama bernama Abiyasa yang memiliki sifat berpegang teguh pada prinsipnya atau bisa dikatakan dengan ulama yang memiliki idealisme. Tak tergoda dengan kilaunya dunia, tak pernah merangkak-rangkak pada penguasa untuk kepentingannya. Ulama yang berpegang teguh, meskipum diancam dengan senjata, dan bertanggung jawab atas ilmu yang diperoleh. Hakikat dari seorang ulama yang benar-benar diamalkannya. Berikut ini merupakan kutipan bait pertama:
Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia
Panutan para kawula dari awal kisah
Ia adalah cagak yang tegak
Tak pernah silau oleh gebyar dunia
Tak pernah ngiler oleh umpan penguasa
Tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah
Tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak
Tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja
Pada bait kedua menceritakan bagaimana cara ulama Abiyasa bersikap dalam mengamalkan prilaku ulama. Orang bijak mengatakan “ilmu nganti laku” yang berarti seseorang atau ulama harus mengamalkan ilmu yang diperolehnya sebaik mungkin. Ulama Abiyasa bertutur kata lemah lembut, sehingga banyak orang menyukai dan mengikuti langkahnya dalam berdakwa. Ia mampu menunjukkan berdakwa tanpa kekerasan dan dakwa yang menentramkan hati. Berikut ini merupakan kutipan bait kedua:
Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah
Marwah digenggam hingga ke dada
Tuturnya indah menyampaikan aroma bunga
Senyumnya merasuk hingga sukma langkahnya menjadi panutan bijaksana
Kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata
Pada bait ketiga menceritakan tentang jalan hidup ulama Abiyasa yang lebih memilih hidup sederhana dan berpegang teguh atas itu. Dengan sikapnya yang berpegang atas prinsipnya ia ditakuti atau disegani para raja dan penguasa. Gemerlap dunia tidak membuatnya kepincut untuk mendapatkannya. Ia lebih suka memakai pakaian yang sederhana dibanding dengan pakaian yang mewah. Ayat suci dipergunakan secara maksimal. Tidak dipesan untuk kepentingannya atau kepentingan penguasa. Inilah hakikat dari ulama.
Ulama Abiyasa bertitah
Para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya
Tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa
Menjadikan sebagai pengumpul suara
Atau diduukan di kursi untuk dipajang di depan massa
Diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah
Agar tampak sebagai barisan ulama
Ulama Abiyasa tidak membutuhkan itu semua
Datanglah jika ingin menghaturkan sembah
Semua diterimah dengan senyum memesona
Jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena
Sebab ia lurus apa adanya
Mintalah arah dan jalan sebagai amanah
Bukan untuk ditembangkan sebagai bunga kata-kata
Tapi dilaksanakan sepenuh langkah
Keseluruhan makna dalam puisi tersebut adalah hakikat dari seorang ulama. Ulama yang baik adalah bertanggung jawab atas ilmu dan gelar yang diperolehnya. Dalam puisi tersebut dapat kita lihat bagaimana seorang ulama Abiyasa mampu berpegang teguh pada prinsipnya, ulama yang mampu berdiri sendiri dan berdaulat atas itu.
Sedangkan apabila dihubungkan dengan kehidupan sekarang dapat kita lihat banyaknya ulama yang pro dengan penguasa. Mereka berebut untuk menjadi bagian penting dalam kekuasaan. Mengorbankan harga diri dan membohongi ilmu yang diembannya. Namun, dibalik banyaknya ulama yang mengabaikan gelarnya ada beberapa ulama yang tidak peduli dengan kehidupan dunia. Mereka mampu untuk hidup selaras dengan ilmu yang mereka dan gelar yang didapat. Contoh saja ulama tersebut adalah CN, CN mampu untuk berdakwa dengan caranya sendiri, tanpa meminta atau memohon bantuan pemerintah. Bahkan, jika ada yang ingin memanfaatkan dirinya tidak pernah digubris jika keinginan itu untuk sesuatu yang buruk. Tidak hanya CN, masih banyak juga ulama yang benar-benar ulama, yang benar-benar mengamalkan ilmunya. berdakwah dengan ramah tanpa menyakiti siapapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar